Jubir: Internasional KNPB
Victor Yeimo
Pemekeran itu politik kolonialisme Indonesia. Politik kolonialisme digerakan oleh nafsu eksploitasi sumber ekonomi di wilayah jajahan. Watak ekspansionis, warisan sejarah kerajaan Majapahit dan imperium barat itulah yang ada dalam otak Jokowi dan kabinetnya. Sehingga kalau bukan karena cadangan 20 miliar ton tambang Freeport di GB, GBC, BC, DBCv, dan kucing liar yang akan dirampok hingga tahun 2059, tidak mungkin manusia Papua dianggap monyet yang harus dibasmi dengan strategi pemekaran.
Tito Karnavian punya anak Perusahan di Freeport. Budi Sunandi, Bos PT. Inalum yang bikin divestasi hingga 51% saham Freeport ini jadi Wamen BUMN. Luhut Panjaitan, hingga Mahfud MD, akan menjamin investasi aman di Papua. Kemanusiaan TNI dan Polri jadi martir melawan dan membunuh-dibunuh- demi elit penguasa kolonial dan kapitalis. Maka juga, pemekaran dipercepat agar para pemburu SDA ini bisa memuluskan transaksi ekonomi politiknya.
Pancasila, NKRI, UUD, dan segala macam instrumen nilai dan sistem hanya dipakai sebagai tameng pencitraan untuk sekedar mendulang legitimasi rakyat Papua, Indonesia dan internasional. Padahal tujuan utamanya adalah perburuan harta kekayaan dari SDA bangsa Papua. Adalah watak lazim dari kolonialisme yang adalah anak kandung imperialisme.
Kemiskinan struktural ditambah hegemoni kolonial dan kapitalis membuat sebagian orang Papua rela jual harga dirinya untuk menjadi boneka dan budak kolonial. Memanfaatkan penderitaan perjuangan bangsa Papua demi mengejar ambisi kekuasaan dalam NKRI. Mereka adalah pasien di ruang gawat darurat yang sedang mencari obat penenang sebentar sebelum mati.
Lantas, apakah pemekaran, eksploitasi SDA, migrasi pendatang, represi militer, akan membunuh perjuangan kemerdekaan bangsa Papua? Akankah strategi AS di California berhasil diterapkan kolonial Indonesia di Papua? Saya sangat yakin bahwa semua paket politik ekonomi kolonial dan kapitalis.
