Jumat, 18 Oktober 2019

Pemerintah PNG Siap Menyambut Pengungsi Papua Barat Jika Mereka Rasa Tidak Aman di West Papua


Thursday, 17 October 2019

P hoto of PNG PM James Marape when he speech at Parliament Haous of PNG (pic google supplied)

17:23 GMT + 12, 14/10/2019, Papua Nugini
  Papua Nugini siap menyambut para pengungsi dari Papua Barat jika mereka memutuskan untuk mencari perlindungan di negara itu. 


Report in English, please click here, PNG welcome West Papua refugees
 
Perdana Menteri James Marape membuat pernyataan ini di Parlemen pada hari Jumat Tanggal 17 October 2019 ketika menanggapi serangkaian pertanyaan oleh Pemimpin Oposisi Belden Namah tentang sikap pemerintah terhadap konflik Papua Barat yang sedang berlangsung dan dugaan pelanggaran hak asasi manusia.
 
“Izinkan saya mengumumkan kepada dunia, jika situasi pengungsi terjadi akibat konflik Politik di Papua Barat, maka kami adalah orang Melanesia, kami siapmengeluarkan sisa sisa uang toeaKami yang terakhir Demi Untukkami menerima pengungsi rakyat Papua Barat yang merupakan Satu bangsa dengan negara kami.
 
“Itu kalau mereka datang, kita orang Melanesia keramahtamahan kita tetap berjaga sampai pada biaya kita sendiri yang akan bertanggungjawab, Dan kita akan mengurusnya.

“Tetapi pada contoh pertama apa pun yang terjadi di sisi lain perbatasan adalah milik pemerintah Indonesia, adalah tanggung jawab mereka, kami hanya dapat memberi saran dan kami hanya dapat menyampaikan kekhawatiran dari sisi ini,” kata PM Marape.
 
Sementara itu, Perdana Menteri Marape lebih lanjut mengatakan PNG akan menghormati kedaulatan Indonesia dan tidak ikut campur dalam urusannya.
 
Dia mengatakan kebijakan luar negeri PNG selalu menjadi 'Teman untuk semua dan musuh bagi siapa pun.'
 
Marape mengatakan selain mendukung seruan selama Forum Kepulauan Pasifik baru-baru ini, untuk penyelidikan independen terhadap dugaan pelanggaran hak asasi manusia, ia secara pribadi memanggil Duta Besar Indonesia untuk PNG guna briefing dan menyampaikan ketidakpuasannya atas kerusuhan yang sedang berlangsung.
 
“Sejauh tanggung jawab terhadap lingkungan internasional yang lebih besar yang kami miliki, kami mengirimkan kekhawatiran itu melalui saluran diplomatik melintasi Istana di Jakarta dan Istana telah mendengar keprihatinan kami.
 
“Tanggapan yang kami dapatkan dari Indonesia adalah bahwa Presiden lebih banyak berinteraksi dengan orang-orang di Papua Barat.
 
"Faktanya, dia telah melakukan satu perjalanan yang dikenal ke Papua Barat sejak insiden itu terjadi untuk duduk dan memulai berbarengandengan Dewan dan Kepala di sana yang sedang berlangsung," kata Marape kepada Parlemen.


CopyRright@NBC NEWS PNG/PACNEWS


Publish by Admin 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Entri yang Diunggulkan

PEMAKARAN ITU POLITIK KOLONIALISME